Jumat, 07 Desember 2007

Mereka Tewas di Lapangan Hijau


Ibarat perang, pertandingan sepakbola memperjuangkan kebanggaan dan harga diri tentu saja demi sebuah kemenangan. Tak ubahnya medan tempur, lapangan hijau pun kadang meminta korban jiwa.

Antonio Puerta adalah pesepakbola terakhir yang harus tutup usia di bawah panji-panji klub sepakbola. Gelandang Sevilla berpaspor Spanyol itu meninggal dunia Selasa (
28/8/2007) di rumah sakit Virgen del Rocio setelah sempat dirawat tiga hari akibat serangan jatung saat berlaga di Liga Spanyol.

Puerta yang 26 November nanti berusia 23 tahun bukan pesepakbola pertama yang meninggal dunia saat melakoni profesinya. Dalam dua dekade terakhir beberapa pesepakbola pun bernasib sama.

Dua tahun lalu, tepatnya bulan Juni 2005, Hugo Cunha yang memperkuat Uniao Leiria di Super Liga Portugal pingsan dan meninggal dunia saat melakukan latihan bersama rekan-rekannya.

Sementara di Oktober 2004, Sao Caetano yang berlaga di Liga Brasil harus kehilangan Serginho. Pemain yang beroperasi sebagai bek itu diduga tewas karena gangguan jantung dan pernapasan saat bertanding menghadapi Sao Paulo di Liga Brasil.

Masih dari Brasil, setahun sebelumnya Maximiliano Patrick Ferreira tutup usia di rumah sakit setelah mengaku sakit saat melakukan latihan bersama klubnya Botafogo-Ribeirao Preto. Samba lain yang tewas adalah Marcio Dos Santos, striker 28 tahun itu meninggal dunia satu jam setelah mencetak gol untuk Deportivo Wanka di Liga
Peru tahun 2002.

Dari tanah Eropa, duka sempat menyelimuti Benfica saat striker Hungaria, Miklos Feher tewas akibat serangan jantung. Dia tewas dalam pertandingan Liga
Portugal saat Benfica menjamu Vitoria Guimaraes.

Kasus kematian yang paling mengejutkan terjadi pada pesepakbola Kamerun Marc-Vivien Foe yang tewas saat negaranya unggul 1-0 atas Kolumbia di Piala Konfederasi yang digelar di Lyon, Juni 2003. Foe yang sempat memperkuat West Ham United,
Manchester City dan Olympique Lyon pingsan di tengah pertandingan dan tewas beberapa saat kemudian.

Serangan jantung cukup mendominasi sebab kematian pesepakbola. Kematian striker
York City, Dave Longhurst (25 tahun) dua menit sebelum turun minum saat menghadapi Lincoln City tahun 1990 juga karena gangguan pada jantungnya.

Hal mana juga terjadi pada Samuel Okwaraji tewas saat membela
Nigeria menghadapi Angola di kualifikasi Piala Dunia tahun 1989.

Di tanah air kematian pesepakbola juga pernah terjadi. Pada 3 April 2000, Eri Irianto menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit setelah pada sore harinya ia tiba-tiba menderita sakit saat Persebaya menjamu PSIM di Liga
Indonesia 1999/2000.

Algojo Penalti yang Baik Hati


Terkadang pemain mau melakukan apa saja untuk mendapatkan penalti. Tapi kalau ada yang menolak hadiah penalti dan berbaik hati tidak memasukkannya ke gawang lawan, itu pasti langka!

Robbie Fowler adalah pemain langka tersebut. Kelangkaannya adalah bersikap jujur, yang dilakukannya pada 24 Maret 1997 saat timnya
Liverpool bertanding melawan Arsenal di Highbury.

Insiden masyhur ini adalah ketika ia terjatuh di kotak penalti Arsenal setelah beradu dengan kiper David Seaman. Wasit Gerald Ashby langsung menunjuk ke titik putih buat
Liverpool. Tapi apa yang terjadi? Fowler memprotes wasit! Ia mengatakan Seaman tidak menyentuhnya.

Namun wasit sudah meniup peluit dan tendangan penalti tetap harus dilakukan. Fowler pun menjadi algojonya. Hasilnya? Sepakannya diantisipasi Seaman, lalu Jason McAteer me-rebound bola dan membuangnya.

Orang-orang lalu mengatakan Fowler memang tidak berniat menggolkan hadiah penalti itu. Tapi sangkaan itu ia bantah -- paling tidak, kemudian ia memperoleh penghargaan fair play dari UEFA.

"Sebagai penyerang, mengambil penalti adalah bagian tugasku dan aku ingin mencetak gol. Aku sudah berusaha dan tak pernah sengaja menghilangkannya. Hanya saja eksekusi saya memang buruk," tuturnya.

Jika Fowler menyangkal sengaja membuang kesempatan penalti karena hati nuraninya menolak, tidak demikian dengan Morten Wieghorst. Gelandang
Denmark itu terang-terangan mengarahkan eksekusi penaltinya ke samping gawang Iran dalam sebuah pertandingan Piala Carlsberg di tahun 2003.

Ceritanya, Dikutip Guardian, di menit-menit terakhir pertama ia dan seorang bek
Iran seperti mendengar bunyi peluit. Mereka berpikir sudah saatnya turun minum. Maka si pemain Iran enak saja memungut bola yang ada di kotak penalti timnya.

Ternyata suara peluit datang dari arah penonton (yang iseng). Wasit tetap melihatnya sebagai kesalahan dan
Denmark dihadiahi tendangan penalti. Setelah berdiskusi dengan pelatih Morten Olesen, Wieghorst yang menyandang ban kapten "Tim Dinamit" sengaja mengalgojoi penalti itu dengan tidak semestinya.

"Tidak adil," kata dia. Meskipun
Denmark akhirnya kalah 0-1, tapi seperti Fowler, Wieghorst juga diberi penghargaan fair play oleh Komite Olimpiade atas sikapnya yang sportif dan gentle.

Si Kembar yang (Tak) Beda Nasib


Fisik boleh identik, pilihan karir boleh sama, tapi nasib serupa tidak selamanya berlaku untuk para kembar di kancah sepakbola. Siapa lebih bersinar dibanding pasangannya?

Untuk barisan si kembar yang tidak "senasib", Ebbe Sand termasuk di dalamnya. Ia adalah bintang
Denmark yang memiliki 66 caps dan koleksi 22 gol di ajang internasional.

Di level klub ia juga menjulang bersama Schalke, sampai-sampai dibuatkan pertandingan testimoni oleh klub Jerman itu (melawan klub pertamanya FC Brondby), ketika memutuskan gantung sepatu di akhir musim 2005/2006.

Lalu bagaimana saudara kembarnya? Namanya Peter Sand, juga pesepakbola. Namun ia wara-wiri di klub-klub kecil, walaupun pernah semusim bermain di Inggris, tapi itupun dengan klub gurem:
Barnsley.

Yang agak lumayan adalah si kembar dari
Georgia, Shota dan Archil Arveladze. Shota dikenal sukses karena pernah memperkuat klub-klub besar seperti Rangers, Ajax, dan AZ Alkmaar. Sedangkan Archil berkarir di tim-tim kelas dua seperti NAC Breda dan Dinamo Tbilisi.

Lalu ada si kembar Ravelli. Fans sejati tentu tidak lupa dengan Thomas Ravelli, salah satu bintang Swedia di Piala Dunia 1994. Kiper eksentrik ini dinobatkan sebagai penjaga gawang terbaik nomor dua di tahun 1994 dan mengantongi 143 caps internasional. Tak heran jika pria yang dikenal humoris itu masuk dalam jajaran pemain legendaris Swedia.

Saudara kembarnya, Erik Andreasson, sebenarnya tidak jelek-jelek amat. Berposisi bek, ia bahkan cukup sering membela timnas Swedia, yakni sebanyak 41 pertandingan. Hanya saja di negaranya Thomas sudah seperti seorang selebritis, sementara orang-orang relatif tidak mengenal siapa itu Erik Ravelli.

Di kalangan si kembar yang sukses, Rene dan Willy Van der Kerkhof ada di jajaran atas. Mereka sama-sama pernah bermain di Twente Enschede dan PSV Eindhoven, di mana mereka memenangi titel Liga Belanda 1975, 1976, dan 1978, serta Piala UEFA 1978.

Mereka juga memperkuat timnas Belanda di Piala Dunia 1974, mesk hanya Rene yang diturunkan, termasuk sebagai pemain pengganti di babak final. Namun keduanya menjadi starter di final Piala Dunia 1978, sewaktu Belanda dikalahkan tuan rumah
Argentina.

Total, Willy membela negaranya 63 kali, sedangkan Rene 47 kali. Terkesan dengan mereka, Pele memasukkan si kembar Van der Kerkhof ke dalam daftar 125 pesepakbola terhebat sepanjang
massa versi dia, yang dirilis pada Maret 2004.

Si kembar nan sukses yang paling terkenal barangkali Ronald dan Frank de Boer, juga dari Belanda. Saking kompaknya, mereka pernah selalu berbarengan membela klub yang sama, seperti
Ajax, Barcelona, Rangers, Al-Rayyan, dan Al-Shamal.

Hanya Frank yang sempat satu musim bermain di Galatasaray, dan Ronald mencicipi FC Twente. Namun di timnas pun mereka sama-sama bersinar. Bedanya, Frank lebih "istimewa" karena pernah lama menyandang ban kapten dan memiliki 112 caps, rekor tertinggi sebelum dilewati Edwin van der Sar. Adapun Ronald tak pernah jadi kapten utama di timnas maupun klub-klubnya dan "hanya" mengantongi 67 caps. Demikian dilansir Guardian.

Insiden Tragis di Luar Stadion


Tak memandang kompetisi, negara atau bahkan efeknya di kemudian hari, bentrokan antar suporter hampir selalu terjadi tiap musim. Tak jarang pula korban meninggal berjatuhan setelahnya.

Gabriele Sandri menjadi orang terakhir yang menjadi korban dari buntut aksi rusuh antar suporter di Roma dua hari lalu. Tifosi Lazio yang berprofesi sebagai disc jockey (DJ) itu tewas karena diterjang peluru aparat kepolisian.

Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya di bulan Februari, anggota kepolisian Italia yang menjadi korban meninggal saat terjadi bentrok antara pendukung
Catania dan Palermo. Buntut dari insiden tersebut, Badan Liga Italia menghentikan kompetisi dan membuat regulasi baru mengenai keamanan stadion.

Insiden memilukan seperti ini bukan untuk pertama kalinya terjadi, juga tidak berlangsung di Italia saja atau di level domestik. Dikumpulkan dt dari berbagai sumber, kompetisi internasional seperti Liga Champions, Piala UEFA atau bahkan perhelatan akbar Piala Dunia juga diwarnai jatuhnya korban meninggal karena aksi rusuh suporter ini.

Pada bulan Januari 1991 misalnya. Seorang remaja berusia 16 tahun tewas saat pertandingan AEK Athens dan Olympiakos Piraeus berlangsung. Gara-garanya adalah dua kelompok suporter tim yang bertanding saling serang.

Di tahun 1995, setidaknya tiga insiden tercatat dalam sejarah kelam sepakbola dunia. Di bulan Januari, pendukung cilik
Genoa meninggal menjelang timnya tampil menghadapi AC MIlan karena dibunuh dalam sebuah kerusuhan. Dua bulan kemudian, insiden yang sama terjadi di Turki usai laga Fenerbache kontra Galatasaray. Di bulan Agustus, giliran suporter Sakaryaspor yang kehilangan nyawanya karena dilempar batu oleh fans Dezcespor, rival tim mereka.

Aksi rusuh yang pada akhirnya memakan korban juga terjadi di kompetisi Piala UEFA. Dua fans Leeds United meninggal dunia karena ditusuk orang tak dikenal saat timnya akan berlaga di
Istanbul untuk menghadapi Galatasaray di semifinal Piala UEFA tahun 2000.

Korban tewas juga terjadi saat PSG menjamu Hapoel Tel Aviv di ajang Piala UEFA November 2006. Satu orang fans meninggal karena ditembak polisi dan satu lainnya menderita luka saat terjadi penyerangan pendukung PSG terhadap suporter Yahudi Hapoel tel Aviv.

Di ajang Piala Dunia 2002, seorang pria tewas mengenaskan karena ditusuk, serta terjadi kerusuhan antar pendukung di Moskow gara-gara Rusia kalah dalam sebuah pertandingan.

Skor-Skor Besar di Pentas Champions


Hanya selang dua minggu rekor kemenangan terbesar di Liga Champions diperbarui Liverpool. Namun rekor sepanjang masa turnamen antarklub Eropa jumlahnya lebih mencengangkan. Berapa?

Kemenangan 8-0 yang dipetik Liverpool atas Besiktas Rabu (7/11/2007) dinihari WIB adalah rekor kemenangan terbesar dalam sejarah Liga Champions, mematahkan rekor kemenangan 7-0 Arsenal atas Slavia Praha pada 24 Oktober lalu.

Rekor tersebut dibatasi pada format baru Liga Champions yang mulai diperkenalkan pada musim 1992/1993. Nah, jika periode tersebut diabaikan -- turnamen ini dibentuk pada musim 1955/1956 dengan nama European Champion Club's Cup -- maka pemegang rekor kemenangan terbesar adalah Dinamo Bucharest.

Klub
Rumania itu pernah menang 11-0 (!) atas Crusaders (Irlandia Utara) pada putaran pertama leg pertama di musim 1973/1074. Di bawah itu, pernah ada enam pertandingan di era jadul di mana pertandingan berkesudahan 10-0.

Salah satu dari pertandingan yang hujan gol tersebut adalah Feyenoord versus KR Reykjavik di musim 1969/1970. Ketika itu Feyenoord menang 12-2. Walaupun margin kemenangannya "hanya" 10 gol, tapi partai itu merupakan rekor skor terbanyak dalam satu pertandingan.

Berikut ini rekor-rekor lain menyangkut skor atau jumlah gol di turnamen Piala Champion/Liga Champions:

Kemenangan terbesar dalam satu pertandingan:
1973/74, 1st round:
Dinamo Bucuresti 11-0 Crusaders

Kemenangan agregat terbesar:
1965/66, 1st round:
Stade Dudelange 0-8 Benfica
Benfica 10-0 Stade Dudelange
(Benfica menang agregat 18-0)

Gol terbanyak dalam satu partai:
1969/70, 1st round:
Feyenoord 12-2 KR (Reykjavik), total 14 gol

Gol terbanyak dalam dua leg
1965/66, 1st round:
Stade Dudelange 0-8 Benfica
Benfica 10-0 Stade Dudelange
(Benfica menang agregat 18-0, total 18 gol)

1968/69, 2nd round:
Reipas (Lahti) 1-9 Spartak Trnava
Spartak Trnava 7-1 Reipas (Lahti)
(Spartak Trnava menang agregat 16-2, total 18 gol)

1969/70, 1st round:
Feyenoord 12-2 KR (Reykjavik)
KR (Reykjavik) 0-4 Feyenoord (in Rotterdam)
(Feyenoord menang agregat 16-2, total 18 gol)

1979/80, 1st round:
HJK (Helsinki) 1-8 Ajax
Ajax 8-1 HJK (Helsinki)
(Ajax menang agregat 16-2, total 18 gol)

Daftar Pemain Terbaik Eropa



Sejak pertama kali digagas di tahun 1956, baru ada tiga orang yang pernah dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Eropa sebanyak tiga kali. Berikut ini daftar lengkap peraih penghargaan bergengsi tersebut.Ballon d'Or atau penghargaan Bola Emas (Golden Boot) digagas pada tahun 1956 oleh majalah Prancis France Football sebagai bentuk apresiasi tertinggi untuk pemain terbaik Eropa, dalam arti semua pemain yang bermain di Eropa, bukan pemain yang berasal dari negara-negara Eropa.

Voting penghargaan yang juga disebut European Footballer of the Year ini dilakukan oleh sebuah panel yang terdiri dari (96) jurnalis sepakbola. Setiap voter memilih
lima dari 50 pemain yang dinominasikan, dan setiap pemain yang dipilih diberi nilai satu hingga lima.

Pemenang "Bola Emas" adalah mereka yang mengumpulkan poin paling tinggi. Adapun pemenang nomor dua dan tiga diberi tropi berupa medali khusus yang terbuat dari perak dan perunggu.

Dalam sejarahnya baru tiga orang memperoleh award ini sebanyak tiga kali yaitu Johan Cruyff (Belanda), Michel Platini (Prancis) dan Marco van Basten (Belanda). Cruyff dan Franz Beckenbauer (Jerman) memegang rekor sebagai pemain yang paling sering dinominasikan, sebanyak 12 tahun berturut-turut.

Berikut ini daftar lengkap pesepakbola terbaik Eropa, yang tahun ini dimenangi Kaka (Brasil/AC Milan):

1956 - Stanley Matthews (Inggris)
1957 - Alfredo di Stefano (Spanyol)
1958 - Raymond Kopa (Prancis)
1959 - Alfredo di Stefano (Spanyol)
1960 - Luis Suarez (Spanyol)
1961 - Omar Sivori (Italia)
1962 - Josef Masopust (Cekoslowakia)
1963 - Lev Yashin (Uni Soviet)
1964 - Denis Law (Skotlandia)
1965 - Eusebio (Portugal)
1966 - Bobby Charlton (Inggris)
1967 - Florian Albert (Hongaria)
1968 - George Best (Irlandia Utara)
1969 - Gianni Rivera (Italia)
1970 - Gerd Mueller (Jerman Barat)
1971 - Johan Cruyff (Belanda)
1972 - Franz Beckenbauer (Jerman Barat)
1973 - Johan Cruyff (Belanda)
1974 - Johan Cruyff (Belanda)
1975 - Oleg Blokhin (Uni Soviet)
1976 - Franz Beckenbauer (Jerman Barat)
1977 - Allan Simonsen (Denmark)
1978 - Kevin Keegan (Inggris)
1979 - Kevin Keegan (Inggris)
1980 - Karl-Heinz Rummenigge (Jerman Barat)
1981 - Karl-Heinz Rummenigge (Jerman Barat)
1982 - Paolo Rossi (Italia)
1983 - Michel Platini (Prancis)
1984 - Michel Platini (Prancis)
1985 - Michel Platini (Prancis)
1986 - Igor Belanov (IUni Soviet)
1987 - Ruud Gullit (Belanda)
1988 - Marco van Basten (Belanda)
1989 - Marco van Basten (Belanda)
1990 - Lothar Matthaeus (Jerman)
1991 - Jean-Pierre Papin (Prancis)
1992 - Marco van Basten (Belanda)
1993 - Roberto Baggio (Italia)
1994 - Hristo Stoichkov (Bulgaria)
1995 - George Weah (Liberia)
1996 - Matthias Sammer (Jerman)
1997 - Ronaldo (Brasil)
1998 - Zinedine Zidane (Prancis)
1999 - Rivaldo (Brasil)
2000 - Luis Figo (Portugal)
2001 - Michael Owen (Inggris)
2002 - Ronaldo (Brasil)
2003 - Pavel Nedved (Republik Ceko)
2004 - Andriy Shevchenko (Ukraina)
2005 - Ronaldinho (Brasil)
2006 - Fabio Cannavaro (Italia)
2007 - Kaka (Brasil)