Fisik boleh identik, pilihan karir boleh sama, tapi nasib serupa tidak selamanya berlaku untuk para kembar di kancah sepakbola. Siapa lebih bersinar dibanding pasangannya?
Untuk barisan si kembar yang tidak "senasib", Ebbe Sand termasuk di dalamnya. Ia adalah bintang
Di level klub ia juga menjulang bersama Schalke, sampai-sampai dibuatkan pertandingan testimoni oleh klub Jerman itu (melawan klub pertamanya FC Brondby), ketika memutuskan gantung sepatu di akhir musim 2005/2006.
Lalu bagaimana saudara kembarnya? Namanya Peter Sand, juga pesepakbola. Namun ia wara-wiri di klub-klub kecil, walaupun pernah semusim bermain di Inggris, tapi itupun dengan klub gurem:
Yang agak lumayan adalah si kembar dari
Lalu ada si kembar Ravelli. Fans sejati tentu tidak lupa dengan Thomas Ravelli, salah satu bintang Swedia di Piala Dunia 1994. Kiper eksentrik ini dinobatkan sebagai penjaga gawang terbaik nomor dua di tahun 1994 dan mengantongi 143 caps internasional. Tak heran jika pria yang dikenal humoris itu masuk dalam jajaran pemain legendaris Swedia.
Saudara kembarnya, Erik Andreasson, sebenarnya tidak jelek-jelek amat. Berposisi bek, ia bahkan cukup sering membela timnas Swedia, yakni sebanyak 41 pertandingan. Hanya saja di negaranya Thomas sudah seperti seorang selebritis, sementara orang-orang relatif tidak mengenal siapa itu Erik Ravelli.
Di kalangan si kembar yang sukses, Rene dan Willy Van der Kerkhof ada di jajaran atas. Mereka sama-sama pernah bermain di Twente Enschede dan PSV Eindhoven, di mana mereka memenangi titel Liga Belanda 1975, 1976, dan 1978, serta Piala UEFA 1978.
Mereka juga memperkuat timnas Belanda di Piala Dunia 1974, mesk hanya Rene yang diturunkan, termasuk sebagai pemain pengganti di babak final. Namun keduanya menjadi starter di final Piala Dunia 1978, sewaktu Belanda dikalahkan tuan rumah
Total, Willy membela negaranya 63 kali, sedangkan Rene 47 kali. Terkesan dengan mereka, Pele memasukkan si kembar Van der Kerkhof ke dalam daftar 125 pesepakbola terhebat sepanjang
Si kembar nan sukses yang paling terkenal barangkali Ronald dan Frank de Boer, juga dari Belanda. Saking kompaknya, mereka pernah selalu berbarengan membela klub yang sama, seperti
Hanya Frank yang sempat satu musim bermain di Galatasaray, dan Ronald mencicipi FC Twente. Namun di timnas pun mereka sama-sama bersinar. Bedanya, Frank lebih "istimewa" karena pernah lama menyandang ban kapten dan memiliki 112 caps, rekor tertinggi sebelum dilewati Edwin van der Sar. Adapun Ronald tak pernah jadi kapten utama di timnas maupun klub-klubnya dan "hanya" mengantongi 67 caps. Demikian dilansir Guardian.
Jumat, 07 Desember 2007
Si Kembar yang (Tak) Beda Nasib
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar