Jumat, 07 Desember 2007

Algojo Penalti yang Baik Hati


Terkadang pemain mau melakukan apa saja untuk mendapatkan penalti. Tapi kalau ada yang menolak hadiah penalti dan berbaik hati tidak memasukkannya ke gawang lawan, itu pasti langka!

Robbie Fowler adalah pemain langka tersebut. Kelangkaannya adalah bersikap jujur, yang dilakukannya pada 24 Maret 1997 saat timnya
Liverpool bertanding melawan Arsenal di Highbury.

Insiden masyhur ini adalah ketika ia terjatuh di kotak penalti Arsenal setelah beradu dengan kiper David Seaman. Wasit Gerald Ashby langsung menunjuk ke titik putih buat
Liverpool. Tapi apa yang terjadi? Fowler memprotes wasit! Ia mengatakan Seaman tidak menyentuhnya.

Namun wasit sudah meniup peluit dan tendangan penalti tetap harus dilakukan. Fowler pun menjadi algojonya. Hasilnya? Sepakannya diantisipasi Seaman, lalu Jason McAteer me-rebound bola dan membuangnya.

Orang-orang lalu mengatakan Fowler memang tidak berniat menggolkan hadiah penalti itu. Tapi sangkaan itu ia bantah -- paling tidak, kemudian ia memperoleh penghargaan fair play dari UEFA.

"Sebagai penyerang, mengambil penalti adalah bagian tugasku dan aku ingin mencetak gol. Aku sudah berusaha dan tak pernah sengaja menghilangkannya. Hanya saja eksekusi saya memang buruk," tuturnya.

Jika Fowler menyangkal sengaja membuang kesempatan penalti karena hati nuraninya menolak, tidak demikian dengan Morten Wieghorst. Gelandang
Denmark itu terang-terangan mengarahkan eksekusi penaltinya ke samping gawang Iran dalam sebuah pertandingan Piala Carlsberg di tahun 2003.

Ceritanya, Dikutip Guardian, di menit-menit terakhir pertama ia dan seorang bek
Iran seperti mendengar bunyi peluit. Mereka berpikir sudah saatnya turun minum. Maka si pemain Iran enak saja memungut bola yang ada di kotak penalti timnya.

Ternyata suara peluit datang dari arah penonton (yang iseng). Wasit tetap melihatnya sebagai kesalahan dan
Denmark dihadiahi tendangan penalti. Setelah berdiskusi dengan pelatih Morten Olesen, Wieghorst yang menyandang ban kapten "Tim Dinamit" sengaja mengalgojoi penalti itu dengan tidak semestinya.

"Tidak adil," kata dia. Meskipun
Denmark akhirnya kalah 0-1, tapi seperti Fowler, Wieghorst juga diberi penghargaan fair play oleh Komite Olimpiade atas sikapnya yang sportif dan gentle.

Tidak ada komentar: